INGIN JABATAN YANG MEMIMPIN…?

Jabatan adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak seseorang dalam suatu organisasi. Dalam konteks kepegawaian, dikenal ada jabatan karier. Jabatan karier adalah jabatan dalam birokrasi pemerintah yang hanya bisa diduduki oleh Pegawai Negeri Sipil berupa jabatan struktural dan jabatan fungsional.
Dalam judul di atas, terdapat kata pejabat dan pemimpin. Di balik kedua kata tersebut terkandung dua unsur utama yang tersurat yaitu jabatan dan kepemimpinan. Jabatan yang terkait dengan kepemimpin dalam jabatan karier lebih mengarah kepada jabatan struktural, karena kompetensi inti dari jabatan struktural adalah kepemimpinan. Kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki seseorang berupa knowledge (pengetahuan), skill (ketrampilan) dan attitude (sikap perilaku) dalam rangka pelaksanaan tugasnya. Kompetensi dimaksud dalam hal ini adalah kompetensi jabatan.
Pejabat yang kompeten adalah pejabat yang mampu memposisikan tugas, tanggung jawab, wewenang dan haknya secara proporsional. Tugas dan tanggung jawab merupakan representasi dari kewajiban jabatan, sedang wewenang dan hak merupakan representasi dari hak. Artinya pejabat yang kompeten harus bisa mnyeimbangkan antara hak dan kewajibannya secara equal.
Sementara orang beranggapan bahwa jabatan struktural lebih prestisius dan lebih prospektif. Pemahaman ini dilatarbelakangi dengan anggapan bahwa menjadi pejabat struktural memiliki posisi yang strategis karena dengan kewenangannya bisa menentukan keputusan (sebagai decision maker) dalam batas level tertentu. Di samping itu dalam jabatan ini, secara struktur terdapat atasan dan bawahan, sehingga pada umumnya pejabat structural memiliki anak buah bahkan mungkin wilayah kerja. Bagaikan penguasa ‘politis’, pejabat structural memiliki wilayah kekuasaan dan pasukan. Secara psikologis jabatan struktural akan memberikan pencitraan rasa dan pencitraan status sosial bagi pemangkunya pada posisi ‘lebih terhormat’ di lingkungan kalangannya sebagaimana orang butuh akan aktualisasi diri.
Jabatan struktural bagi sementara orang juga dianggap lebih prospektif atau lebih menjanjikan karena secara karier pangkat bisa beranjak lebih tinggi dari pada yang sama sekali tidak menduduki jabatan ini. Melalui jabatan struktural seseorang juga berpeluang mendapatkan fasilitas tertentu dan secara finansial juga akan mendapatkan tunjangan jabatan sebagaimana mestinya (kemungkinan bila dilaksanakannya remunerasi akan mendapat peringkat jabatan yang lebih tinggi yang berpengaruh juga pada besaran gaji).
Anggapan itulah yang memicu spirit dan motivasi sementara pegawai untuk mendapatkan peluang karier melalui jabatan struktural walaupun harus menempuhnya dengan jalan apapun. Ambisi pegawaipun terlecut ketika akan memperebutkan posisi jabatan structural ketika hanya melihat dari sisi enaknya saja. Kebanyakan yang dilihat adalah sisi haknya yang direpresentasikan dengan wewenang dan hak, sementara itu kewajiban sebagai representasi dari tugas dan tanggung jawab sebagai pejabat struktural terabaikan.
Suksesnya seorang pejabat struktural adalah ketika bisa menyeimbangkan kewajiban dan haknya secara equal. Oleh karena itu mutlak dibutuhkan kompetensi jabatan struktural sebagai basis dari pengangkatan dalam jabatan ini. Apabila dicermati beberapa kemungkinan kaitan antara motivasi (dorongan keinginan/kemauan) seseorang dengan kompetensi (kemampuan) dalam konteks pengangkatan dalam jabatan adalah sebagai berikut :
1. kompeten (mampu), dan mau (baca: ingin).
2. kompeten (mampu) tetapi tidak mau/tidak ingin.
3. tidak kompeten (tidak mampu), tidak mau/tidak ingin.
4. tidak kompeten (tidak mampu) tetapi mau (ingin)
Orang yang dalam kondisi seperti digambarkan pada nomor 1 di atas telah mempolakan karier dirinya sedemikian rupa untuk mencapai puncak kariernya. Pembekalan diri berupa peningkatan kompetensipun dilakukan untuk mencapai standar yang dibutuhkan Kemampuan dan kemauan saling bersinergi. Penggambaran pada kondisi ini bisa diungkapkan sebagai pengangkatan dalam jabatan berbasis kompetensi.
Penggambaran sebagaimana pada kondisi nomor 2 menunjukkan ketiadaan motivasi meski sebenarnya kompetensinya memadai. Orang yang masuk dalam kondisi ini biasanya tidak ingin dibebani dengan berbagai tanggung jawab dan tekanan pihak eksternal yang lebih berat. Orang semacam ini lebih enjoy bekerja bila tanpa disampiri atribut jabatan. Orang tipe ini tidak senang tampil di depan sebagai aktor dan lebih senang tampil di belakang layar tetapi memiliki peran yang dominan sebagai operator karena kompetensi yang dimilikinya. Walaupun sebenarnya orang ini juga menyadari bahwa jadi aktor biasanya lebih mengkilap, lebih bersinar, lebih dikenal sebagai figur publik dari pada sang sutradara namun orang ini tetap tidak silau.
Selanjutnya, kondisi orang sebagaimana digambarkan pada nomor 3 lebih mengarah pada sikap ‘tahu diri’ menyadari akan kemampuannya, sehingga jabatan tidak terlalu menjadi obsesinya. Orang ini sudah merasa cukup dengan keadaan yang standar atau sedang-sedang saja (Jawa : nrimo ing pandum).
Sedang penggambaran pada kondisi nomor 4, lebih menunjuk pada sikap merasa sok bisa tetapi tidak bisa menyadari akan kemampuannya (pepatah Jawa : rumongso biso ning ora bisa rumongso). Orang yang terjebak dalam kondisi ini akan berusaha mendapatkan jabatan struktural meski harus menempuh dengan berbagai cara termasuk menghalalkan segala cara. Penggambaran ungkapan yang tepat dalam kondisi ini adalah pengangkatan dalam jabatan berbasis loby atau pengangkatan dalam jabatan berbasis wira-wiri bukan berbasis kompetensi. Kata wira-wiri dan loby menunjukkan betapa intensnya orang hiruk pikuk, hilir mudik melakukan ‘gerilya’ kesana-kemari demi memenuhi ambisinya yakni diangkat sebagai pejabat tanpa dilandasi sikap fairplay. Tipe pemimpin seperti ini ibarat aktor robotik/simbolik yang tampil di depan tetapi dibelakangnya harus ada dukungan orang lain sebagai brainwarenya.
Bagaimana dengan Anda? Bagi Anda yang sedang mengikuti bursa kandidat pejabat struktural, bekalilah diri dengan kompetensi. Jangan hanya sibuk dengan “wira-wir”i. Fairplay adalah spirit, jiwa dan semangat dari kompetisi ini. Pada hakekatnya jabatan adalah kepercayaan. Kepercayaan sejati sudah semestinya hanya diberikan kepada orang yang menjadi ahlinya. Suatu perkara tinggal menunggu saat kehancurannya apabila dipegang oleh orang yang bukan ahlinya. Jadilah orang yang ahli itu, Anda akan dipercaya orang untuk membawa amanat.
Sementara itu di sisi lain, pihak yang memberikan kepercayaan mestinya juga mengedepankan apa yang disebut Merytal system yakni suatu sistem penerimaan (recruitment), pemutasian, maupun promosi pegawai yang didasarkan pada pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skill), kemampuan (capable) dan pengalaman (experience) yang dimiliki, sehingga pejabat yang bersangkutan akan menjadi cakap dan professional, dan bukan didasarkan pada hubungan kerabat dan sobat (famili, kroni, alumni, etnis, golongan, dll). Salam spirit …!!! (Qs_0) (Sukisna)

Posted on 8 Oktober 2009, in kepegawaian and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: