Jadikan Hati Simbol Perdamaian

Hati adalah cermin ketulusikhlasan seseorang melakukan aktivitas kehidupan  sehari-hari yang berhubungan dengan Tuhan Allah maupun sesama manusia.

Sebagai ilustrasi orang yang tulus dalam beramaliah dapat tergambar dari sikap kesehariannya, manakala orang yang berhati lembut (hanif) biasanya bisa dilihat dari etika, tutur kata dan bahasa yang mengenakkan orang lain.

Keadaan ini biasanya seiring karena kondisi kematangan rohani dalam hal mengendapkan sifat emosional terhadap nafsu amarahnya. Sehingga jika ini menghinggapi seorang pimpinan maupun orang biasa akan menghadirkan rasa kearifan, tidak mudah marah, bijaksana dan menunjukkan rasa solidaritas yang tinggi dan tidak semena-mena jika diberi amanat.

Namun sebaliknya, cerminan hati yang tidak tulus dalam pergaulan, biasanya temperamennya tinggi, mengedepankan sikap sombong, culas, judes, emosional dan kadangkala katanya kasar dan cenderung suka menyakitkan orang lain (egoistis). Jika sifat ini menghinggapi seorang pimpinan atau orang biasa bisa jadi timbul sikap yang tidak peka, kurang empati terhadap pihak lain, sehingga terjadi rasa ketidakseimbangan dalam hal pendistribusian tugas.

Hati juga merupakan rahasia bagi kita yang memiliki masalah pribadi sehingga orang lain pun tidak mesti harus tahu tentang penderitaan yang sesungguhnya baru dialami. Namun sebaliknya, seseorang dapat menginformasikan lewat keceriaan air mukanya yang sangat bergembira dan berseri-seri jika ia baru memperoleh suatu kenikmatan.

Kemudian sebagai modal di dalam pergaulan yang sangat kompleks ini peran hati adalah sangat penting. Dua insan bersahabat dapat hidup rukun dan damai karena cocoknya dua hati, kelompok organisasi tertentu bisa kompak dan maju menggapai tujuan bersama karena adanya pandangan yang sehati.

Tetapi keadaan berbagai sudut pergaulan menjadi rusak, tidak rukun dan tidak kompak karena bertolak hati, entah dari sisi pergaulan pribadi maupun organisasi sekalipun.

Seperti kata Baginda Nabi Muhammad SAW, “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekedar reorientasi di tengah pergaulan yang sangat sarat konflik permasalahan, konflik kepentingan atau bahkan konflik pemahaman di tengah multi pergaulan ini maka sangat perlu kita kembali kepada hati nurani. Jika boleh ambil contoh fakta baik di tubuh internal institusi mungkin sering terjadi perbedaan paham yang sangat mendasar, sehingga sangat mempengaruhi kebijakan baik sejak dari tingkat birokrasi pusat hingga daerah, perbedaan kepentingan politisi di regional sering terjadi konflik massal hanya karena pemilu. Ini adalah jelas prototip contoh warga, anak bangsa dan rakyat Indonesia yang tidak ada rasa qona’ah dalam hati tapi justru sebaliknya nafsu keserakahan keangkaramurkaan yang mereka tonjolkan. Na’udzubillah.

Selaras dengan ungkapan sabda Nabi di atas, bahwa saatnya kita bergaul dengan hati, berkepentingan dengan hati dan berpaham dengan hati. Memang ketika hati itu baik akan baik seluruh tubuhnya, sekaligus amal perbuatannya, namun ketika hati itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya termasuk amalnya.

Inilah semua hal yang perlu disadari dengan sesadar-sadarnya bahwa menghadapi segala sesuatu perkara di tengah pergaulan ini akan berhasil dan selamat apabila kita fungsikan atas kejernihan hati.

Sebab dapat kita buktikan bahwa sifat dan perangai orang yang kasar, keras dan suka berkata kotor biasanya ia jarang menggunakah hati. Ia membiarkan hatinya beku, mengkristal dan sangat sulit menerima masukan.

Sebagai epilog dari renungan ini, jika boleh penulis nukilkan satu ayat firman Tuhan yang artinya “Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka, tertutup, dan untuk mereka siksa yang amat dahsyat” (QS. Al-Baqarah 2 : 7).

Marilah kita kembalikan segala urusan kehidupan ini dengan memfungsionalkan hati dengan semaksimal mungkin sehingga segala potensi friksi, komplikasi hingga pada tingkat perpecahan umat dapat dieliminasi dengan bersandarkan pada nilai-nilai Ketuhanan menuju pada kedamain yang sejati. Wallahu a’lam bishawab.

Posted on 13 Oktober 2009, in QOLBU and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: