PERANG TERHADAP KORUPSI

Dari waktu ke waktu berita praktik korupsi di negeri ini semakin mengejutkan saja. Pelaku korupsi atau koruptor  merambah ke semua lini, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Lebih mengejutkan lagi apabila tersiar kabar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap seorang koruptor serta berusaha mengungkap aksi korupsi di suatu tempat, justru semakin tampak pelaku korupsi lainnya yang bermunculan. Begitu mengemaskan apabila kita perhatikan tersangka pelaku korupsi yang tertangkap tangan ataupun yang disebut-sebut ikut menikmati uang korupsi tetap “tersenyum”, tanpa wajah bersalah, apalagi malu ketika namanya muncul di media massa sekalipun.

Pertanyaan yang muncul di benak kita adalah apakah sudah begitu parahkah moralitas pada diri para anggota eksekutif, legislatif maupun yudikatif (baca Penyelenggara/Pejabat Negara) yang menjadi tersangka koruptor tersebut. Kita ingat ketika kasus Slank dengan lagu “Gosip Jalanan” membuat gerah, bahkan marah sebagian anggota legislatif dan anggota keluarganya. Demikian pula ketika rumor mafia peradilan muncul atau ketika nama anggota Kabinet/Menteri , sewaktu dulu masih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), disebut-sebut termasuk pernah menikmati aliran dana Bank Indonesia. Krisis moral wakil rakyat saat ini tampaknya berada pada titik yang memprihatinkan. Berbagai kasus kejahatan moral melanda lembaga terhormat ini, sehingga mereka kiranya sudah tidak pantas lagi menyandang predikat “terhormat”. Kejahatan yang muncul tidak hanya dalam aspek korupsi, namun juga pada penyimpangan moral.

Kenyataan tersebut di atas tentu saja menyesakkan dada rakyat, yang saat ini masih berjuang untuk mengakali kebijakan kenaikan bahan bakar minyak, yang tentu efeknya berimbas pada komoditas lainnya pula.

Wacana tentang pemberantasan korupsi di tanah air sudah cukup lama dan menjenuhkan. Bahkan bisa dikatakan sudah telampau menjengkelkan. Sebab semakin banyak aturan hukum yang dibuat tentang pemberantasan korupsi, justru semakin banyak pula terjadi praktik korupsi. Pelaku korupsi pun sudah merambah ke semua lembaga baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Penegak hukum yang ada selama ini seperti jaksa, polisi dan hakim masih belum bisa maksimal dalam memberantas korupsi. Bahkan masyarakat dibuat kaget dengan berita tentang aksi penyuapan di kalangan penegak hukum kita. Di tengah pesimisme dalam pemberantasan korupsi saat ini, masih ada setitik harapan pada KPK yang telah melakukan tindakan nyata terhadap koruptor. Namun anehnya, tatkala KPK mulai bergerak cepat dalam pemberantasan korupsi, justru muncul ”perlawanan” yang memalukan dari DPR. Banyak anggota DPR yang mencoba ”berlindung diri” dengan bersikap terlalu formal apabila KPK hendak masuk ke lingkungan kerja DPR. Misalnya dengan mensyaratkan permohonan ijin tertulis kepada Ketua DPR terlebih dahulu sebelum melakukan pengeledahan di ruang kerja anggota DPR. Sungguh ironis.

Tampaknya usaha untuk memerangi tindak korupsi harus semakin dipertegas. Ada usulan agar para koruptor dijatuhi hukuman mati, walaupun hal ini tentu saja tidak bisa langsung menghilangkan kejahatan korupsi itu sendiri. Karena, apabila kurang hati-hati, justru hukuman mati akan menyebabkan pengungkapan kasus-kasus korupsi menjadi terhenti, mengingat hasil korupsi seringkali tidak hanya dinikmati satu orang saja. Bahkan sering kali aksi korupsi dilakukan secara bersama-sama oleh sekelompok orang.

Alangkah baiknya apabila kita mampu membentengi diri kita dari keikutsertaan dalam tindak kejahatan korupsi. Perlu kiranya ”budaya malu” untuk menikmati sesuatu yang bukan menjadi hak kita, ditanamkan sejak usia dini. Anak-anak kita perlu dididik dan diajarkan untuk tidak mudah dan begitu saja menerima pemberian dari seseorang. Yang pada akhirnya nanti, para penerus kita, yang mungkin suatu saat akan ikut andil mengelola negara ini, agar tidak ikut-ikutan korupsi, setidak-tidaknya meneruskan tindak kejahatan korupsi. Dwi Haryono

Posted on 16 Oktober 2009, in kepegawaian, peberhentian, QOLBU, Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Susah juga tuh, gimana kalau kita berada di sistem yang korup dan kita coba menegakkan integritas kita..
    malah dibantai nanti..

  2. wah wah , keknya susah dah..
    salam kenal gan..

    http://jasadh.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: