CIPTAKAN IMPRINT YANG BAIK

Alkisah terdapat sepasang suami istri yang memiliki seorang anak laki-laki, dan hidup bersama orang tua (Bapak) dari suami yang sudah tua renta. Dikarenakan orang tua si suami dianggap hanya membebani hidup keluarganya, maka si suami bermaksud mengasingkan (membuang) orangtuanya ke suatu tempat yang jauh. Untuk itu si sisuami kemudian membuat sebuah kurungan tertutup yang akan digunakan sebagai media pembuangan orangtuanya. Pada saat si suami hampir menyelesaikan pembuatan kurungan, datang anak laki-lakinya dan bertanya. “Bapak sedang membuat apa?”

:Sebuah kurungan”, jawab sang Bapak

“Untuk apa kurungan itu?”, tanya si anak lagi,

“ini untuk membawa kakekmu ke suatu tempat yang jauh!”, timpal sang Bapak.

Mendengar cerita Bapaknya si anak menangis, dan si Bapak bertanya, “kenapa kamu menangis,Nak?”

“Bapak … kalau nanti Bapak sudah membuang kakek ke tempat yang jauh, tolong jangan lupa kurungan itu dibawa kembali pulang ya…” Jelas si anak kepada Bapaknya.

“untuk apa ?” sang Bapak mendesak

“untuk aku pakai bila kelak aku membuang Bapak ke suatu tempat yang jauh…” jawab anaknya dengan polos.

Cerita yang tentu akan benar-benar mengusik perasaan siapapun yang mendengarnya dan akan berhati-hati dalam menciptakan Imprint kepada buah hati kesayangannya. Yang menjadi pertanyaan apakan selama ini kita telah dan bisa menciptakan imprint yang baik kepada anak-anak kita?. Dijaman yang materalistis dan individualistis seperti sekarang ini, di saat manusia “dituntut” berlomba-lomba mencari keduniaan, banyak orangtua kurang memperhatikan tumbuh kembang anak. Si anak cukup dititpkan kepada seorang ibu, yang memang secara alamiah dekat dengan seorang anak, atau bahkan dengan pembantu atau baby sister bila kedua orang tuanya bekerja. Pulang kerja, terkadang kita juga masih disibukkan dengan pekerjaan yang belum selesai di kantor. Anak benar-benar kurang mengecap kebersamaan yang semestinya didapat dan diharapkan.

Kondisi seperti ini sebenarnya masih dapat ditoleransi oleh anak-anak kita. Kita dapat sedikit bersilat lidah menjelaskan kepada sang anak, bahwa bapak atau ibu bekerja memang untuk kepentingan-kepentingan si anak, “Untuk membeli baju-baju kamu”, “Untuk membeli jajan kamu”, “Untuk biaya sekolah kamu”, dan sebagainya. Dari penjelasan ini, si anak mungkin akan mafum adanya.

Tapi, ketika hari libur tiba dan si bapak atau si ibu juga masih memikirkan pekerjaan, atau bahkan bekerja di luar, apa yang kita harapkan maklum dari si anak?. Harapan untuk bersama di hari libur dan menikmati kebersamaan (berlibur) bersama keluarga sirna dengan rasa kecewa yang sangat mendalam. Tidak secara sengaja kita telah menciptakan imprint yang kurrang bagus kepada anak-anak kita. Lalu, apa yang kira-kira kelak akan dilakukan anak-anak kita bila kita sudah tua renta dan tiada berguna lagi?. Apakah kita akan mengharapkan sapaan dan obrolan yang manis dari anak-anak kita yang sedang berlibur?. Apakah kita akan mengharapkan diajak jalan-jalan bersama keluarga mereka ke suatu tempat yang indah?.

Penulis merasa terenyuh dengan cerita seorang teman yang bekerja di suatu instansi pemerintah. Anak laki-lakinya yang berumur sekitar sepuluh tahun sekarang sudah kurang peduli lagi dengan bapaknya, pulang atau tidak pulang sianak tiada pernah menanyakan perihal sang bapak kepada ibunya. Bahkan, si anak lebih memilih tingal dengan sang kakek yang dapat mengantar pergi dan pulang ke sekolah. Ya, karena si bapak selalu sibuk di kantornya, baik pada hari kerja maupun saat hari libur.

Tentu membuka cakrawala kita sebagai seorang bapak, seorang ibu, seorang PNS, sebagai seorang bawahan, dan sebagai seorang pimpinan atau atasan. Bagi penulis, imprint tidak hanya dapat tertanam pada anak-anak kita, tetapi dapat tertanam pada teman-teman kita dan dapat tertanam kepada bawahan-bawahan atau atasan-atasan kita. Cerita-cerita yang berkembang di antara pegawai tentang imprint yang pernah diciptakan oleh bekjas atasannya paling tidak telah menjelaskan gambaran ini. Si bekas atasan yang telah pensiun kurang memeproleh penghargaan dari para bekas bawahannya, bahkan untuk sapaan sekalipun. Oleh karena itu, sedikit pelajaran yang mungkin dapat dipetik adalah marilah kita ciptakan imprint yang baik kepada siapapun.

IMPRINT = Jejak, rekam, kesan, membekas

Oleh: Mukhlis Irfan

Buletin Badan Kepegawaian Negara

Posted on 23 Maret 2010, in kepegawaian, motivasi, QOLBU and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: